Siswa SMAN 47 Jakarta Ungkap Trik Atasi FOMO di Tengah Gempuran Tren Ibukota
Menjadi remaja di kota metropolitan seperti Jakarta bukanlah perkara mudah, terutama dengan derasnya arus informasi dan gaya hidup yang terus berubah setiap detiknya. Para siswa di Jakarta seringkali terjebak dalam fenomena Fear of Missing Out atau yang lebih dikenal dengan istilah FOMO. Perasaan takut tertinggal dari tren terbaru, mulai dari gaya berpakaian, tempat nongkrong yang viral, hingga kepemilikan gawai terbaru, seringkali menimbulkan kecemasan yang mendalam. Namun, sebuah gerakan menarik muncul dari lingkungan SMAN 47 Jakarta, di mana para siswanya secara aktif mendiskusikan dan membagikan trik atasi gangguan psikologis ini demi menjaga kesehatan mental di tengah gempuran tren yang melelahkan.
Kesadaran akan bahaya FOMO ini bermula dari diskusi-diskusi kecil di dalam kelas yang kemudian berkembang menjadi program bimbingan konseling yang inklusif. Para siswa di SMAN 47 Jakarta menyadari bahwa keinginan untuk selalu “eksis” di media sosial seringkali membuat mereka kehilangan fokus pada prioritas utama, yaitu belajar dan pengembangan diri. Melalui kampanye internal, mereka mencoba meredefinisi arti kesuksesan sosial yang tidak melulu diukur dari seberapa banyak pengikut di Instagram atau seberapa sering mereka mengikuti tren yang sedang meledak di Jakarta.
Salah satu trik atasi rasa cemas tersebut yang diterapkan secara massal adalah praktik Digital Detox pada hari-hari tertentu. Siswa didorong untuk mematikan notifikasi media sosial mereka dan lebih fokus pada interaksi tatap muka yang berkualitas di lingkungan sekolah. Langkah ini terbukti sangat efektif dalam menurunkan tingkat stres di kalangan remaja. Di tengah gempuran tren gaya hidup konsumtif, sekolah ini justru mengajarkan pentingnya rasa syukur dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Pendidikan karakter di SMAN 47 Jakarta menekankan bahwa identitas diri tidak ditentukan oleh barang mewah atau popularitas semu di dunia maya.
Selain itu, para siswa juga diajarkan untuk memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap setiap informasi yang masuk. Mereka belajar bahwa sebagian besar yang terlihat di media sosial adalah hasil kurasi yang tidak selalu mencerminkan realitas. Dengan memahami hal ini, rasa iri dan takut tertinggal atau FOMO dapat diminimalisir secara signifikan. Trik lainnya adalah dengan menyibukkan diri pada kegiatan ekstrakurikuler yang produktif, sehingga energi yang mereka miliki tersalurkan pada pencapaian nyata di dunia fisik daripada hanya sekadar memantau layar ponsel untuk melihat kehidupan orang lain.
